Usut Tuntas Bandara Ilegal di Morowali: ISDS Ungkap Operasi Tanpa Otoritas Negara Sejak 2019

- Penulis

Selasa, 25 November 2025 - 02:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta|piv.co.id-

Dugaan keberadaan bandara yang beroperasi tanpa otoritas resmi negara di kawasan industri Morowali kembali memicu perhatian publik. Peneliti Indonesia Strategic and Defense Studies (ISDS), Edna Caroline, memaparkan temuan-temuan penting terkait aktivitas Bandara PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang disebut telah beroperasi sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo pada tahun 2019.

 

Dalam pemaparannya melalui kanal Youtube Forum Keadilan TV pada Senin, 24 November 2025, Edna menegaskan bahwa isu ini bukan persoalan baru, melainkan bagian dari rangkaian problem klasik sektor pertambangan.

 

“Jika kita melihat kembali pada Pilpres 2014, Pak Prabowo sudah menegaskan soal bocor, bocor, bocor. Salah satu sektor dengan potensi kebocoran terbesar adalah tambang ilegal,” ujar Edna.

 

Bandara Tanpa Bea Cukai dan Imigrasi

 

Edna menjelaskan bahwa belakangan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan latihan militer di wilayah-wilayah yang selama ini diduga menjadi kantong tambang ilegal, termasuk Bangka Belitung dan Morowali. Namun yang lebih mengejutkan, menurutnya, adalah temuan di kawasan IMIP Morowali.

 

“Morowali itu luas sekali. Di atas lahan kawasan industri 4.000 hektare itu ternyata terdapat bandara yang tidak memiliki otoritas negara. Artinya, arus keluar-masuk orang dan barang berlangsung tanpa pengawasan. Bahkan informasi yang kami terima, aparat keamanan pun tidak bebas masuk,” ungkapnya.

 

Edna juga mengutip konfirmasi Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yang melakukan peninjauan saat latihan Komando Gabungan (Kogab).

 

“Pak Menhan menyatakan bahwa di bandara tersebut tidak ada bea cukai dan imigrasi. Dan beliau menegaskan, tidak boleh ada negara di dalam negara,” ujarnya.

 

Pesan Menhan dan Urgensi Kedaulatan Udara

 

Baca Juga:  Prof Dr Sutan Nasomal : Rakyat Mengugat Pemerintah Dan Dpr Harap Presiden Ri Memperhatikan Keluhan Rakyatnya

Latihan Kogab dengan sandi perebutan pangkalan udara itu dinilai bukan sekadar kegiatan militer biasa. Edna menilai pernyataan Menhan merupakan sinyal strategis mengenai pentingnya pengawasan negara, terutama pada objek vital di kawasan industri tambang.

 

“Untuk level menteri, pernyataan itu sangat tegas. Beliau mengingatkan bahwa sumber daya tambang adalah aset bangsa yang harus dijaga. Negara harus mengetahui setiap barang yang keluar dan masuk,” jelasnya.

 

Selain itu, absennya otoritas navigasi udara seperti AirNav juga menjadi sorotan. Edna menilai keberadaan bandara tanpa regulasi keselamatan penerbangan merupakan pelanggaran serius.

 

“Masa pesawat keluar masuk tanpa kita ketahui? Ini bukan hanya soal izin, tapi juga keselamatan dan kedaulatan udara,” tegasnya.

 

Siapa Pemberi Izin? Publik Diminta Mengawal

 

Edna kemudian mempertanyakan bagaimana sebuah bandara dapat beroperasi selama bertahun-tahun tanpa kehadiran institusi negara, padahal bandara tersebut diresmikan Jokowi pada 2019 dan kawasan IMIP sendiri mulai beroperasi sejak 2010.

 

“Artinya ini berlangsung cukup lama. Selama itu siapa yang memberikan izin? Mengapa negara tidak hadir? Ini pertanyaan mendasar yang harus dijawab,” katanya.

 

Ia mendesak masyarakat ikut mengawal langkah pemerintah setelah Menhan menyatakan akan melaporkan persoalan ini kepada Presiden Prabowo Subianto.

 

“Publik perlu memastikan ada tindak lanjut nyata. Minimal harus ada petugas bea cukai, imigrasi, dan AirNav ditempatkan di lokasi. Jangan sampai potensi pelanggaran bertahun-tahun kembali berulang,” ujarnya.

 

Edna menegaskan bahwa sorotan terhadap bandara IMIP bukan sekadar isu administratif, melainkan menyangkut aspek kedaulatan negara, pengawasan industri strategis, serta potensi kebocoran ekonomi yang berdampak luas terhadap kesejahteraan nasional.

(Red)

Berita Terkait

EDITORIAL  Hibah Bernilai Fantastis: Mengapa Polres dan GEMKARA Mendapat Porsi Terbesar di Tengah Seruan Efisiensi?
Profesor Sutan Nasomal (Worning) Ke Presiden RI Agar Perintahkan Aparat Awasi Importir Luar Negeri Agar Negara Tidak Dirugikan Puluhan Ribu Trilyun 
TIGA PMI BERANI LAPORKAN KEKERASAN, KJRI JOHOR BAHRU JADI PENJAGA HARAPAN
EDITORIAL: Antara WTP, Jejak WDP, dan Jalan Panjang Menuju Tata Kelola yang Sebenarnya  
Prof Dr Sutan Nasomal Meminta Presiden Ri Agar Polri Tinggalkan Kebiasaan Lamanya Yang Tidak Bagus
Belanja Pengawasan Asahan: Temuan Dan Kebungkaman
Kerugian Capai Rp883 Juta, Kepala Dinas PUTR Agus Jaka Putra Ginting, S.H, M.H. Belum Berikan Tanggapan  
Piagam Batu Bara Digelorakan, Mosi Tidak Percaya Menggema
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:27

EDITORIAL  Hibah Bernilai Fantastis: Mengapa Polres dan GEMKARA Mendapat Porsi Terbesar di Tengah Seruan Efisiensi?

Senin, 22 Juni 2026 - 11:04

Profesor Sutan Nasomal (Worning) Ke Presiden RI Agar Perintahkan Aparat Awasi Importir Luar Negeri Agar Negara Tidak Dirugikan Puluhan Ribu Trilyun 

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:16

TIGA PMI BERANI LAPORKAN KEKERASAN, KJRI JOHOR BAHRU JADI PENJAGA HARAPAN

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:09

EDITORIAL: Antara WTP, Jejak WDP, dan Jalan Panjang Menuju Tata Kelola yang Sebenarnya  

Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:55

Prof Dr Sutan Nasomal Meminta Presiden Ri Agar Polri Tinggalkan Kebiasaan Lamanya Yang Tidak Bagus

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:02

Kerugian Capai Rp883 Juta, Kepala Dinas PUTR Agus Jaka Putra Ginting, S.H, M.H. Belum Berikan Tanggapan  

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:26

Piagam Batu Bara Digelorakan, Mosi Tidak Percaya Menggema

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:48

Blackout Sumatera Picu Tragedi: Dua Pegawai Toko Aksesoris Meninggal Diduga Keracunan Gas Genset di Batu Bara  

Berita Terbaru