PIV.CO.ID
BATU BARA — Suara lantang dan jujur menggema di halaman Kantor Camat Datuk Tanah Datar hari ini. Puluhan warga, didominasi para ibu-ibu, menyampaikan aspirasi secara terhormat namun menohok: “KAMI MALU!! Kantor Camat Kami Bekas Rumah Pasar Hewan.”(6/8/26)

Membawa baliho berisi lima tuntutan utama, warga memohon kepada Bupati Batu Bara agar mewujudkan janji “Bahagia” dengan segera membangun Kantor Camat yang baru, layak, dan pantas menjadi wajah pelayanan pemerintah di tengah masyarakat. Kondisi bangunan yang buruk dan tidak lagi memadai dirasakan masyarakat bukan sekadar kekurangan fisik, melainkan sebuah rasa malu yang harus disampaikan secara lurus kepada pemerintah.
Baliho yang dikibarkan menyuarakan lurus kebenaran masyarakat:
// “Pak Bupati, ‘Bahagia’-kan kami dengan pembangunan Kantor Camat”
//”Pak Bupati, kantor camat kami buruk, butuh pembangunan yang baru”
//”Kami butuh kantor yang layak untuk pelayanan masyarakat”
//”Kami Aliansi Masyarakat Datuk Tanah Datar memohon pembangunan Kantor Camat”
// “Pak Bupati, Kami Malu — kantor camat kami bekas rumah pasar hewan”
Di hadapan warga yang berani bersuara, Camat Datuk Tanah Datar, Bapak Priyo Pratomo, ST, MM, tampil terbuka dan menerima setiap aspirasi dengan rendah hati. Beliau menyampaikan tanggapan atas nama Pemerintah Kabupaten Batu Bara dan Bupati Batu Bara.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten dan Bapak Bupati, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kehadiran dan keberanian Bapak/Ibu sekalian menyampaikan harapan secara terhormat di tempat ini,” ujar Camat Priyo membuka sambutannya.
Beliau tidak menampik kenyataan yang disampaikan warga. “Kondisi kantor yang Bapak/Ibu sebutkan sebagai ‘bekas rumah pasar hewan’ itu — sungguh, rasa malu dan prihatin itu kami rasakan bersama. Kantor Camat adalah wajah pelayanan pemerintah di tengah masyarakat. Sudah selayaknya menjadi tempat yang layak, nyaman, dan membanggakan — bukan sebaliknya, memprihatinkan dan memalukan.”
Camat Priyo menyampaikan pesan langsung dari Bupati:
“Bapak Bupati mengetahui dan sangat memahami perasaan masyarakat Datuk Tanah Datar. Beliau menitipkan permohonan maaf yang tulus atas ketidaklayakan yang Bapak/Ibu alami selama ini. Pemerintah tidak menutup mata, dan tidak akan berpura-pura tidak tahu. Kondisi ini harus segera diperbaiki sebagai wujud penghargaan kami kepada masyarakat yang taat membayar pajak.”
Lebih dari sekadar mendengarkan, Camat Priyo memberikan jaminan tindak lanjut: “Seluruh aspirasi dan bukti kondisi yang Bapak/Ibu sampaikan hari ini, akan saya laporkan secara rinci dan langsung kepada Bapak Bupati untuk segera ditindaklanjuti.”
Beliau kemudian meyakinkan warga agar tetap bersabar namun tak perlu ragu:
“Saya memohon Bapak/Ibu bersabar sedikit lagi. Namun yakinlah — suara Bapak/Ibu hari ini telah didengar dan dicatat dengan tinta emas oleh Pemerintah Kabupaten Batu Bara. Bupati Batu Bara tidak akan membiarkan masyarakatnya merasa malu menghadap pemerintah sendiri.”
Di akhir sambutan, Camat Priyo mengangkat derajat pengawasan masyarakat:
“Pengawasan Bapak/Ibu adalah bagian dari pembangunan itu sendiri. Terima kasih atas kepeduliannya. Kami berjanji tidak akan mengecewakan harapan masyarakat Datuk Tanah Datar.”
Suasana pun berakhir damai. Warga merasa didengar, dan Camat Priyo Pratomo membuktikan bahwa seorang pemimpin yang jujur, terbuka, dan berani menyampaikan aspirasi rakyat kepada atasannya — adalah kehormatan yang melampaui sekadar jabatan yang disandangnya. Kini, seluruh mata masyarakat Datuk Tanah Datar menanti: apakah suara emas yang tercatat hari ini akan segera berwujud bangunan baru yang membanggakan?
(Red)

















