Prof Dr Sutan Nasomal Minta Presiden Perintahkan Polri TNI Ungkap Berbagai Kasus Burem Di Indonesia

- Penulis

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 12:17

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Jakarta|piv.co.id-Indonesia tengah menghadapi krisis moral dan hukum yang menggerogoti fondasi demokrasi. Dalam waktu hampir bersamaan, dua jenis kekerasan terhadap suara-suara kebenaran terjadi: wartawan dipukul hingga buta, sementara pejuang rakyat dikriminalisasi dan dijebloskan ke penjara.

 

Dua cerita berbeda, namun benang merahnya sama: negara lamban, hukum tunduk, dan kekuasaan diam-diam berpihak pada yang kuat.

 

Kasus Pertama: Wartawan Dianiaya, Polisi Diam Diri Ambarita, wartawan di Bekasi, dipukuli dengan brutal hingga mengalami kebutaan di mata kiri dan luka serius lainnya. Pelakunya belum ditangkap. Bahkan, belum ada kepastian dari aparat mengenai perkembangan kasus ini.

 

Sementara itu di Sumatra Utara, wartawan Tahan Purba menjadi korban pengeroyokan oleh empat pria. Tapi bukannya mendapat keadilan, ia justru dilaporkan balik oleh pelaku dan kini menjadi terlapor. Sebuah ironi keadilan yang menyakitkan.

 

  1. “Ini adalah bentuk pembungkaman terhadap fungsi kontrol pers,” ujar Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum dan pengamat demokrasi. “Jika negara tidak segera bertindak, maka pesan yang dikirim ke publik adalah: ‘Jangan bicara kebenaran, atau kamu akan dibungkam,

 

Kasus Kedua: Tanah Dirampas, Suara Dibungkam Yakarim Munir Lembong: Dari Pinggir Sungai ke Balik Jeruji sementara di ujung barat Indonesia, tepatnya di Aceh Singkil, seorang aktivis agraria bernama Yakarim Munir Lembong kini ditahan di penjara atas laporan pidana dari perusahaan sawit PT. Delima Makmur

 

Penahanan ini terjadi di tengah proses gugatan perdata yang sedang berlangsung antara Yakarim dan perusahaan tersebut. Diduga kuat, ini adalah upaya pembungkaman terhadap suara kritis yang selama ini menuntut transparansi dan keadilan agraria di daerahnya.

 

Dalam sebuah surat terbuka dari balik jeruji, Yakarim menyampaikan jeritan perlawanan Para pejuang yang tak pernah mati, justru sedang diadili oleh konspirasi titipan para oligarki. Kami korban dari sistem yang ingin membungkam perjuangan.

 

Surat tersebut ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, tokoh masyarakat, media, dan seluruh rakyat Indonesia.

Surat kepada Presiden: Jangan Tutup Mata, Pak Prabowo Yakarim menulis secara langsung kepada Presiden: Saya mohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menutup mata atas apa yang terjadi. Perusahaan ini telah merampas tanah rakyat dan menjadikan hukum sebagai alat untuk membungkam kami.”

 

Baca Juga:  Lapas Labuhan Ruku Teken Kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Asahan untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Warga Binaan

Kuasa hukumnya, Zahrul, SH, menegaskan:

Ini murni sengketa perdata. Tidak ada alasan hukum untuk memenjarakan Yakarim. Penahanan ini adalah bentuk nyata kriminalisasi terhadap pembela hak rakyat.”

 

Satu Tujuan: Membungkam Kebenaran

Kedua kasus ini wartawan yang dipukuli dan aktivis yang dikriminalisasi menggambarkan wajah buram demokrasi Indonesia hari ini. Ketika rakyat bersuara, mereka dipukul. Ketika rakyat menggugat, mereka dipenjara.

 

“Bangkitlah wahai rakyat! Bila hukum telah menjadi alat kekuasaan, dan keadilan telah dijual, maka kita tak bisa tinggal diam,” tulis Yakarim dalam seruan perlawanan dari balik penjara.

 

Redaksi Berpendapat: Ini Bukan Sekadar Kasus Hukum, Ini Darurat Demokrasi

Kita tidak sedang bicara soal dua kasus terpisah. Kita sedang menyaksikan pola pembungkaman yang sistemik. Wartawan dibungkam, pejuang rakyat dipenjara, dan negara memilih menjadi penonton.

 

Dimana Dewan Pers? Dimana Komnas HAM? Dimana suara elite politik yang dulu lantang bicara demokrasi?

 

Kita butuh lebih dari sekadar kutukan moral. Kita butuh gerakan sosial. Kita butuh solidaritas rakyat. Kita butuh hukum yang benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan untuk oligarki.

 

 

Tentang Yakarim Munir Lembong Yakarim bukan kriminal. Ia adalah anak dari Hj. Rafi’ Barus, seorang perempuan pejuang yang pernah dibuang secara politik. Tumbuh di pinggir Sungai Leu Cinendang, Aceh Singkil, Yakarim menjadi simbol perjuangan akar rumput yang menolak tunduk pada korporasi rakus dan negara yang abai.

 

Ini Ujian Kita Bersama Demokrasi mati bukan hanya ketika tank masuk ke jalanan, tapi juga ketika suara-suara kecil tak lagi didengar, dan kebenaran menjadi alasan untuk dipenjarakan.

 

Hari ini, Diri Ambarita tidak bisa melihat. Tahan Purba dilaporkan balik. Yakarim dipenjara. Besok bisa jadi giliran kita semua.

 

Nara Sumber Prof Dr Sutan Nasional SH MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom juga presiden Partai Oposisi Merdeka dan Jenderal Kompii serta Pengasuh Ponpes ASS SAQWAPlus Jakarta.

(Red)

Berita Terkait

EDITORIAL  Hibah Bernilai Fantastis: Mengapa Polres dan GEMKARA Mendapat Porsi Terbesar di Tengah Seruan Efisiensi?
Profesor Sutan Nasomal (Worning) Ke Presiden RI Agar Perintahkan Aparat Awasi Importir Luar Negeri Agar Negara Tidak Dirugikan Puluhan Ribu Trilyun 
TIGA PMI BERANI LAPORKAN KEKERASAN, KJRI JOHOR BAHRU JADI PENJAGA HARAPAN
EDITORIAL: Antara WTP, Jejak WDP, dan Jalan Panjang Menuju Tata Kelola yang Sebenarnya  
Prof Dr Sutan Nasomal Meminta Presiden Ri Agar Polri Tinggalkan Kebiasaan Lamanya Yang Tidak Bagus
Belanja Pengawasan Asahan: Temuan Dan Kebungkaman
Kerugian Capai Rp883 Juta, Kepala Dinas PUTR Agus Jaka Putra Ginting, S.H, M.H. Belum Berikan Tanggapan  
Piagam Batu Bara Digelorakan, Mosi Tidak Percaya Menggema
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:27

EDITORIAL  Hibah Bernilai Fantastis: Mengapa Polres dan GEMKARA Mendapat Porsi Terbesar di Tengah Seruan Efisiensi?

Senin, 22 Juni 2026 - 11:04

Profesor Sutan Nasomal (Worning) Ke Presiden RI Agar Perintahkan Aparat Awasi Importir Luar Negeri Agar Negara Tidak Dirugikan Puluhan Ribu Trilyun 

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:16

TIGA PMI BERANI LAPORKAN KEKERASAN, KJRI JOHOR BAHRU JADI PENJAGA HARAPAN

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:09

EDITORIAL: Antara WTP, Jejak WDP, dan Jalan Panjang Menuju Tata Kelola yang Sebenarnya  

Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:55

Prof Dr Sutan Nasomal Meminta Presiden Ri Agar Polri Tinggalkan Kebiasaan Lamanya Yang Tidak Bagus

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:02

Kerugian Capai Rp883 Juta, Kepala Dinas PUTR Agus Jaka Putra Ginting, S.H, M.H. Belum Berikan Tanggapan  

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:26

Piagam Batu Bara Digelorakan, Mosi Tidak Percaya Menggema

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:48

Blackout Sumatera Picu Tragedi: Dua Pegawai Toko Aksesoris Meninggal Diduga Keracunan Gas Genset di Batu Bara  

Berita Terbaru