Medan|piv.co.id–
Kesultanan Asahan semakin gencar mengangkat harkat dan martabat budaya Melayu, salah satunya dengan mempererat tali silaturrahim dalam lingkungan keluarga besar kesultanan ternama Pesisir Timur Sumatera tersebut. Pada momentum silaturrahim akbar yang baru saja digelar, berbagai langkah strategis untuk penguatan identitas kesultanan telah disampaikan (17/1/2026)
Sultan Asahan Ke XIII Seri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Iqbal Alvinanda Abdul Dzalil Rahmadsyah, dalam sambutannya menekankan pentingnya dokumentasi identitas bagi seluruh zuriyat keluarga besar kesultanan. Menurutnya, hal ini dapat dilakukan melalui pembuatan form khusus untuk melacak jalur silsilah atau yang dikenal dalam bahasa Melayu sebagai terombo.
Ketua Panitia Silaturrahim Akbar, Tengku M. Iqbal Bustamam S.Sos MH, menjelaskan bahwa aktivitas mempererat persaudaraan ini memiliki makna filosofis, seperti memadukan bilah-bilah lidi yang akan menjadi sangat kuat jika menyatu.
“Setelah acara ini akan ada ziarah ke makam Sultan Asahan pertama di Pulo Raja, dilanjutkan dengan ziarah Sultan ke-5,” ujarnya
Ia juga mengungkapkan rencana agenda berikutnya berupa Halal bi Halal dan pengajian rutin setiap triwulan untuk menjaga keakraban yang terjalin.
Merupakan harapan Keluarga Besar Kesultanan, yang diwakili oleh H. Tengku Zulkarnain, agar penguatan silaturrahim dapat menyatukan seluruh anggota keluarga. Senada dengan itu, Hj. Tengku Nurzehan mengingatkan pentingnya budaya saling tegur sapa dan memaafkan antar sesama.
Dalam kesempatan yang sama, Perdana Menteri Kesultanan Asahan, H.Tengku Rinel Rizal, SE., MM bin H. Tengku Yusrizal
mengungkapkan latar belakang sejarah yang membuat keluarga kesultanan sempat menjadi introvert.
“Trauma pasca Revolusi Sosial tahun 1946/1947 membuat pendahulu kita tak berani memakai gelar Tengku. Contohnya, Atok Kita Dr. Mansyur—pendiri Fakultas Kedokteran USU—tak berani menggunakan sebutan tersebut karena sering berinteraksi dengan pihak pemerintah pada masa itu,” jelasnya.
Menurutnya, zaman telah berubah dan kini saatnya untuk memperjuangkan hak-hak yang ada dengan keyakinan pada kekuatan yang dimiliki.
“Marilah kita satukan visi dan misi, hilangkan rasa curiga dan ketidakpercayaan. Semoga segala upaya kita mendapatkan ridho Allah SWT,” pungkasnya, sekaligus meminta maaf jika ada salah kata dalam penyampaiannya.
Acara yang bernuansa kekeluargaan ini dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi dan Tausyiah Agama oleh Prof. Dr. H. M. Syukri Albani SHI., MA, dan ditutup dengan doa bersama serta sesi foto bersama setelah seluruh peserta saling memaafkan.
(red)


















